Wednesday, January 29, 2014

Monday, November 04, 2013

Sudah Cukupkah Kompetensi Anda dalam Mengelola Bisnis Retail?

Untuk kedua kalinya saya ditunjuk untuk mengisi workshop pada acara tahunan Retail Summit yang diadakan oleh The Nielsen Indonesia, perusahaan riset kelas dunia, di lima kota besar utama yaitu: Bandung, Surabaya, Palembang, Jogjakarta, dan kota penutup tahun ini adalah Medan.
Selalu menyenangkan bertemu dengan para peritel lokal di daerah khususnya mereka yang berangkat dari usaha keluarga yang saat ini beberapa di antaranya dilanjutkan oleh generasi kedua. Sayangnya passion dari generasi penerus dalam banyak kasus tidak sehebat passion dari orang tua yang mendirikan bisnis mereka. Beberapa di antaranya bahkan berhenti di tengah jalan, tidak mampu bertumbuh. Sebagian lagi adalah pemain-pemain baru yang mencoba peruntungan di dunia retail.
Sudah menjadi kebiasaan saya untuk mengedarkan kuesioner kepada peserta sebelum workshop dimulai, Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa dalam peserta workshop memahami materi yang akan saya sampaikan.
Sangat menarik untuk mengetahui apa yang terjadi. Di salah satu dari isi  kuesioner saya memberikan pertanyaan sederhana untuk mengetahui apakah peserta memahami cara menghitung “jumlah barang“ yang harus dibeli ketika mereka membuka surat pesanan (PO) kepada pemasok (supplier). Hal ini adalah pekerjaan rutin mereka (peritel) apalagi sebagian besar pengusaha masih mengendalikan sendiri surat pesanan kepada pemasok untuk alasan keamanan karena bagian pembelian diyakini sebagai daerah basah yang rawan kecurangan. Jadi penting bagi pemilik/pebisnis retail untuk tahu cara menghitung jumlah barang yang akan dipesan dengan benar bukan?
Faktanya dari dua kota besar terakhir yang saya sudah lewati saya mendapatkan fakta bahwa hanya 2 orang peserta workshop dari sekitar 50-an peserta di Surabaya dan 40-an peserta di Palembang yang menjawab dengan “benar” atau tidak sampai 10 persen yang menjawab benar.
Ini suatu fakta yang agak memprihatinkan namun itulah realita dari pelaku usaha bisnis retail kita di daerah. Kompetensi mereka dalam mengelola bisnis retailnya sangat jauh dari standar yang semestinya.
Hal ini diperparah dengan rendahnya semangat belajar dari mereka. Bisa dilihat dari peserta yang hadir tepat waktu yang hanya separuh dari kapasitas tempat yang tersedia. Keinginan mereka memiliki buku-buku yang bisa menambah pengetahuan sekaligus menaikkan kompetensi mereka pun juga rendah.
Pertanyaan yang tersisa mampukah mereka mengatasi persaingan dengan peritel skala nasional yang saat ini sudah merambah di semua kota besar tadi? Persaingan tidak bisa diatasi dengan mengeluh.  Saya mempunyai formula sederhana untuk menghadapi persaingan: bersiap, belajar, dan memberikan yang terbaik. Jika ketiga hal itu tidak dilakukan maka kecil kemungkinan mereka bisa menghadapi persaingan.   

  

Thursday, August 25, 2011

Mengapa Operasi Pasar Libatkan Peritel Modern?

Satu bulan menjelang lebaran atau persisnya menjelang bulan puasa tanpa dikomando semua barang beranjak naik. Meskipun pemerintah melalui Menteri Perdagangan dan berbagai instansi berkali-kali meyakinkan masyarakat bahwa stok pangan cukup herannya seperti tidak berujung ke pasar. Tetap saja konsumen akan mendapatkan fakta bahwa semua barang bergerak naik.

Lalu seperti biasa, sikap pemerintah yang reaktif akan langsung meluncurkan operasi pasar. Operasi pasar tidak lain adalah intervensi pemerintah ke pasar, biasanya yang dituju adalah pasar tradisional. Agak ironis memang. Sepertinya pemerintah bersama-sama beberapa instansi memusuhi pasar tradisional. Mengapa begitu?

Harga pasar terbentuk atas penawaran dan permintaan atau hukum supply dan demand. Jika permintaan meningkat maka akan terjadi kenaikan harga. Intervensi dalam bentuk apapun sebenarnya mencoba mengatur pasar. Apa yang salah? Sekilas pemerintah seolah ingin melindungi konsumen, tetapi di sisi lain juga sepertinya menghajar kesempatan dari pedagang tradisional.

Fenomena yang menarik, paling tidak saya lihat sendiri di sebuah foto di surat kabar nasional, operasi pasar melibatkan peritel modern. Tampak spanduk hypermarket besar berinisial “C” dan “H” terpampang di sana. Di berita lain juga dikatakan bahwa pengecer yang bekerja sama dilibatkan dalam operasi pasar. Ini sungguh sebuah kejutan bagi saya.

Bukankah selama ini peritel modern selalu dijadikan kambing hitam atas menurunnya omzet pasar tradisional? Mengapa justru kini pemerintah seolah membenturkan kepentingan pasar tradisional dengan pasar modern? Secara kasat mata, operasi pasar bagi peritel modern adalah sebuah ajang promosi, selain meraup untung sekaligus mempromosikan keberadaannya. Dan juga sebuah penegasan bahwa peritel modern lebih mampu menyediakan “harga murah” dibanding pasar tradisional.

Di sisi lain pedagang pasar tradisional juga harus mawas diri. Pola-pola berdagang dengan jurus aji mumpung sudah bukan waktunya lagi. Bukankah cara–cara demikian terbukti tidak efektif dan malah berbuah perlawanan bahkan dari pihak pemerintah yang seharusnya berpihak pada yang mereka yang selama ini dinilai lemah?

Sudah waktunya pedagang pasar tradisonal di bawah asosiasi pedagang pasar tradisional membangun sikap-sikap berdagang yang lebih baik. Dari pada menyalahkan kehadiran pasar modern dan ketidakberesan perijinan yang dikeluarkan pemerintah lebih baiklah jika pelaku pasar tradisional dibantu asosiasi yang menaunginya untuk berbenah dalam segala hal.

Tidak sedikit pihak yang sudah menghimbau agar pasar tradisonal berbenah. Menjadikan pasar yang nyaman dan asri. Meningkatkan pelayanan. Berdagang dengan keuntungan yang wajar untuk hubungan jangka panjang. Saat ini di mana tawaran begitu banyak konsumen memang cair sekali. Mereka bisa memiliki 3-4 alternatif tempat belanja. Jika pasar tradisional tidak berbenah maka memang hampir dipastikan omzet mereka akan terus menurun.

Omzet menurun karena dua hal. Pertama, banyaknya alternatif pusat belanja, di antaranya pasar modern. Kedua, larinya konsumen akibat ulah dari pelaku pasar tradisonal yang suka menjalankan jurus aji mumpung ketika menjelang hari raya apapun.

Christian Guswai : Konsultan, Trainer, Penulis Bisnis Retail Modern

Foto:
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/08/18/08231519/Hari.Ini.Ada.Pasar.Murah.di.Rawa.Badak

Sunday, September 12, 2010

Seberapa serius Anda dengan bisnis Anda?

Sebagian besar bisnis retail tumbuh dari bisnis retail tradisional. Hanya sebagian kecil yang tumbuh menjadi peritel skala lokal (kota kabupaten/kota/provinsi) dan ada beberapa ke regional (lintas provinsi) dan lebih sedikit lagi yang terdengar dalam skala nasional (memiliki cabang di beberapa kota).
Beberapa peritel lokal ini sekarang sudah memasuki generasi kedua. Bisnis yang dulunya berangkat dari bisnis ritel tradisional sudah tumbuh menjadi bisnis ritel modern. Beberapa di antaranya memiliki lebih dari satu toko.
Generasi kedua ini tidak pernah belajar bagaimana mengelola bisnis ritel modern. Pendidikan tinggi yang ditempuhnya pun sangat jauh dari dunia ritel. Masih bagus kalau sang pewaris bisnis ini menyukai bidang ini. Jika tidak? Maka bisnis ini sungguh-sungguh masuk ke dalam masa depan yang tidak jelas. Dalam beberapa kasus, jika pewaris bisnis tidak menyukai bisnis ritel, maka saya menyarankan untuk dijual saja kepada pihak yang memang memiliki passion di bidang ini.
Selain bisnis ritel yang diwariskan saya juga menjumpai beberapa pebisnis ritel baru yang masuk ke bisnis ini hanya bermodalkan visi, bahwa bisnis ritel adalah bisnis masa depan. Dengan visi yang kuat ini mereka masuk ke dunia ritel juga tanpa pengetahuan yang memadai. Ada lagi yang terang-terangan dan dengan sedikit nada bangga berujar bahwa mereka masuk ke bisnis ritel hanya dengan modal nekad.
Lalu apa yang harus dilakukan bagi kedua jenis pebisnis ini? Tidak ada cara lain selain belajar dan mengupayakan terjadinya transfer teknologi. Artinya, pelaku bisnis harus memahami bisnis ini sebelum mampu memberdayakan orang lain untuk membantunya.
Mempercayakan bisnis ritel kepada profesional tanpa si pebisnis memahami bisnisnya secara luar dalam sama artinya dengan menanti kesulitan di masa depan. Saya memiliki banyak contoh di mana bisnis ritel dikelola oleh profesional yang juga memiliki pengetahuan pengelolaan bisnis ritel yang setengah-setengah. Orang yang dipercayakannya sebenarnya hanya tahu sedikit dari pengalaman kerja sebelumnya dan setelah itu berhenti belajar. Apa yang terjadi? Bisa ditebak. Ilmu yang dulu cukup untuk masa lalu sekarang menjadi tidak cukup lagi karena kompetisi yang kian ketat. Cara-cara bisnis dijalankan pun sudah berubah. Kelakuan konsumen juga berubah. Bisnis harus dikelola dengan lebih baik lagi. Yang lebih parah adalah karena ketidaktahuan dari pemilik bisnis sehingga sampai dicurangi oleh orang yang diberi kepercayaan tadi. Ironis kedengarannya namun ini sering kali terjadi dan dalam banyak kasus lagi-lagi karena ketidaktahuan pemilik bisnis itu tentang bagaimana seharusnya prosedur operasi dari bisnisnya.
Masalah berikutnya adalah keterbatasan sumber daya manusia yang bisa diserahkan tugas menjalankan operasi bisnis sehari-hari. Jika Anda berharap mendapatkan orang yang berpengalaman dan berkompeten? Tentu saja ada tetapi tidak ada jaminannya bahwa yang dilakukannya benar. Karena itu sekali lagi, jika Anda benar-benar serius dengan bisnis ritel Anda, pertama-tama yang harus dilakukan adalah seriuslah dalam MENDIDIK diri Anda sendiri sebelum Anda mampu mendidik orang-orang (pegawai) Anda.
Jika ada yang beranggapan bahwa biaya belajarnya terlalu tinggi maka sebaiknya pola pikirnya dirubah untuk melihat dana yang dikeluarkan sebagai “investasi jangka panjang”. Karena jika Anda ingin berhemat di investasi pendidikan maka Anda akan memboroskan waktu dan biaya di masa depan dikarenakan yang diduganya sebagai penghematan dari biaya untuk mencerdaskan diri sendiri.

Sunday, March 07, 2010

Berhemat dengan Cermat (Penerangan Toko)

Di buku saya yang pertama How to Operate Your Store Effectively yet Efficiently saya menganjurkan di dalam pengendalian biaya operasi untuk mengoperasikan hanya separuh lampu saja dalam rangka menghemat biaya listrik.
Akhir-akhir ini ketika berkeliling di beberapa peritel, sudah banyak yang menerapkan cara berhemat demikian (lihat pada foto), namun sayangnya saya melihat terjadi kesalahpahaman. Kalau dibaca dengan cermat, anjuran tersebut bukan secara mentah-mentah mengatakan bahwa hanya mengoperasikan separuh dari lampu yang ada di dalam toko namun yang terpenting adalah mendesain toko kita sehingga memungkinkan bagi penerangan alami dari luar ke dalam toko sehingga toko kita terang benderang di kala siang. Setelah syarat ini dipenuhi barulah kita bisa mengoperasikan hanya separuh saja dari seluruh penerangan toko kita.
Berhemat dengan cara membuat toko Anda gelap gulita pada akhirnya akan membuat toko Anda terlihat kumuh dan tidak siap melayani pelanggan dengan penampilan terbaiknya. Pikirkan lagi itu.

Thursday, November 05, 2009

Permen Bukan Alat Pembayaran Pengganti Uang Receh


Berikut saya cuplikan berita yang bersumber dari Kompas.com:

"Direktur Perlindungan Konsumen Depdag Radu Malam Sembiring menegaskan, aturan pengembalian dalam transaksi ritel tertuang jelas dalam UU Nomor 23/1999 tentang Bank Indonesia.

UU BI menetapkan, seberapa pun kecil nilai kembalian dalam setiap transaksi, tetap harus menggunakan alat pembayaran yang sah. ”Kami masih memberikan waktu bagi peritel untuk membenahi. Setelah ini kami akan mengambil tindakan tegas,” kata Radu, kemarin.

Jika peritel tetap membandel, Radu menilai, mereka telah melanggar UU BI dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen sehingga perlu terkena tindakan tegas.
Namun, sebelum mengambil tindakan tegas yang tak dia sebutkan dalam bentuk apa, Radu mengatakan, masalah transaksi ini lebih dulu diselesaikan langsung dengan instansi terkait, yaitu BI.

Sebab, dalih pengusaha, mereka terpaksa memberikan permen karena tak mudah lagi bagi mereka mendapatkan uang receh untuk kembalian transaksi. ”Kami kesulitan untuk mendapatkan uang receh,” kata Heri Sumantri, Ketua Bidang Kemitraan dan Departemen UKM Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia.

Namun, BI tak bisa begitu saja menerima dalih dari para pedagang tersebut. ”Perusahaan ritel bisa menukar ke BI dan kami sudah menyediakan,” kata Ery Setiawan, Kepala Bagian Pengelolaan Uang Keluar BI.


Masalah pengembalian dalam pecahan uang kecil memang menjadi isu yang tak habis-habisnya bagi peritel. Meskipun yang dipermasalahkan adalah nilai uang yang tak seberapa namun tetap saja menjadi masalah yang sepertinya tak berujung. Beberapa peritel di daerah mengatakan susah sekali mendapatkan uang kecil dari bank-bank. Bahkan bank-bank swasta mengatakan kesulitan mendapatkan tukaran uang kecil dari BI. Dari berita yang saya cuplik di atas BI membantah bahwa mereka tak menyediakan uang receh. Mana yang benar sulit sekali dibuktikan.
Seandainya saja kesulitan itu memang nyata dan tidak seindah yang dikatakan pejabat BI maka saya tetap menganjurkan kepada Peritel untuk lebih baik membayar lebih daripada mengambil uang receh yang tak seberapa itu namun membentuk kesan buruk di mata konsumen. Beberapa peritel yang tidak percaya dengan konsep tersebut tetap saja ngotot mengembalikan uang receh dengan permen. Tindakan yang akan diambil oleh Departemen Perdagangan tentu saja adalah bukti nyata bahwa konsumen tidak rela jika peritel memberikan permen sebagai pengganti uang receh.

Kesulitan menjadi Peluang

Setiap masalah sebenarnya adalah peluang untuk membangun persepsi baik di mata konsumen. Beberapa peritel sudah lebih dari dua tahun lalu menciptakan beberapa terobosan. Carrefour sebagai contoh, melakukan sistem "Simpel" atau Sistem Pembulatan. Bila mana ada nilai pecahan pada kembalian uang belanja konsumen maka dengan menekan tombol tertentu kasir akan membulatkan ke bawah nilai belanja konsumen sehingga nilai kembalian belanjanya bisa lebih mudah untuk dikembalikan.
Contoh lain, saat bencana gempa di Padang beberapa waktu lalu, beberapa peritel membuat program sumbangan di mesin kasir yang mana bila ada kembalian receh sebesar Rp25 ke atas maka Kasir akan menawarkan ke konsumen apakah uang kembalian dalam pecahan kecil tersebut mau disumbangkan ke korban gempa. Jika konsumen setuju maka Kasir akan menekan tombol tertentu pada mesin kasir untuk membukukan sumbangan dari kembalian uang receh tersebut dan akan tercantum pada struk pembelian. Konsumen gembira karena uang receh tersebut memberi nilai lebih daripada berbentuk permen yang pada umumnya juga jarang sekali dimakan.

Dengan contoh di atas kiranya para peritel tetap kreatif dalam menyikapi segala permasalahan dalam bisnisnya. Selalu ada solusi dan bahkan solusinya begitu sederhana namun jika dikelola dengan baik sebuah masalah bisa menjadi manfaat.

Foto: http://farm3.static.flickr.com/2163/2419607697_0c8f7584ab.jpg

Tuesday, July 21, 2009

Basic Principles of Retail Business


Basic Principles of Retail Business adalah buku ke-3 dari Retail Excellence Series karya Christian F. GUSWAI.
Jika Anda ingin tumbuh besar, cepat dan kuat di kemudian hari maka Anda tidak boleh mengabaikan prinsip-prinsip dasar dari bisnis retail yang dibahas secara menyeluruh di dalam buku ini.
Bisnis retail modern Indonesia kebanyakan tumbuh dari bisnis kecil atau bisnis keluarga yang kemudian tumbuh menjadi bisnis dalam skala menengah namun jarang sekali tumbuh menjadi bisnis dalam skala besar. Kebanyakan bisnis ritel yang tumbuh besar di Indonesia belakangan hari ini adalah bisnis ritel asing.
Jelas sekali di sini, kurangnya pengetahuan akan hal-hal yang dasar kerap kali membuat sebuah bisnis tidak mampu tumbuh cepat, besar, dan kuat manakala harus berhadapan dengan bisnis retail skala nasional apalagi multinasional. Hal ini bukan semata-mata dikarenakan besarnya modal dari peritel skala besar tersebut namun kebanyakan disebabkan oleh lemahnya peritel skala kecil tadi dalam membangun fondasi yang kokoh bagi bisnisnya sehingga munculnya persaingan sedikit saja sudah menjadi hambatan besar bagi bisnisnya.
Karena itu bagi peritel yang ingin terus tumbuh maka tidak ada cara lain kecuali menjadikan bisnisnya benar sejak awal dan itu dimulai dari diterapkannya dasar-dasar bisnis ritel yang baik dan benar sejak awal.

No ISBN: 978-979-27-5440-7 (sebutkan nomor ini untuk pencarian lebih cepat)
Distributor: Gramedia dan toko buku terkemuka lainnya